Memanfaatkan Emosi Publik di Media Sosial dalam Merespon COVID-19 Sebagai Data Nasional: Review Tentang Peran Linguitik Terapan Di Tengah Pandemi

Oleh: Iqbal Nurul Azhar

COVID-19 telah menyerang banyak negara di dunia dan menimbulkan dampak yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat. Merebaknya pandemi ini telah menyebabkan seluruh sektor kehidupan masyarakat terguncang. Ia mempengaruhi tidak hanya kestabilan negara, tetapi juga jutaan rumah tangga.

Sebagai negara dimana COVID-19 pertama kali muncul, Tiongkok merupakan negara yang benar-benar merasakan bagaimana gelombang pandemi ini merubah kehidupan masyarakatnya. Sebagai negara besar yang sangat mengandalkan kekuatan pada produktifitas dan aktifitas SDMnya, COVID-19 telah membuat rakyat Tiongkok menderita karena dengan adanya pandemi ini, SDM Tiongkok menjadi tidak produktif selama berbulan-bulan. Akibatnya, banyak warganya menjadi tertekan dan menumpahkan uneg-uneg serta emosinya di media sosial.

Peneliti gabungan dari tiga institusi yaitu Chinese Academy of Sciences, Beijing Cina, University of Chinese Academy of Sciences, Beijing, Cina, dan University of Toronto, Kanada memandang penting emosi yang ditampilkan warga tersebut di media massa. Dalam perspektif mereka, luapan-luapan emosi tersebut mengandung informasi-informasi yang berhubungan dengan kondisi sosial masyarakat Cina dapat diketahui dengan lebih pasti. Bagi mereka informasi-informasi ini sangat penting di ketahui sebagai bahan pertimbangan pelaksanaan tindakan pencegahan dan pengendalian dampak COVID-19 agar tidak membuat Cina menjadi semakin terpuruk.

Dengan memanfaatkan pengetahuan mereka pada keilmuan linguistik terapan, para peneliti ini bergerak dengan menganalisis fitur linguistik postingan di media sosial. Secara umum, tujuan dari penelitian mereka adalah untuk mengeksplorasi perubahan respons emosi publik selama COVID-19 di Tiongkok. Mereka mengambil sampel dari 22.423 pengguna Weibo dan mengumpulkan postingan Weibo mereka berdasarkan wilayah provinsi setiap hari dari 1 Januari 2020 hingga 18 April 2020. Selanjutnya, mereka mengekstrak fitur-fitur linguistik dari postingan mereka dan mengumpulkannya sebagai sebuah domain bahasa. Domain bahasa tersebut kemudian mereka sandingkan dengan kosakata-kosakata emosi yang ada dalam kamus kanonikal yang direkomendasikan oleh pemerintah Tiongkok agar diketahui sebaran medan makna dari kosakata-kosakata terkait emosi masyarakat tersebut.

Para peneliti sangat peka terhadap perkembangan regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Mereka sangat memperhatikan informasi kebijakan terkini pemerintah terkait penanggulangan COVID-10 melalui berita dan informasi penting yang dirilis oleh organisasi kesehatan masyarakat nasional dan internasional dari 1 Januari 2020 hingga 18 April 2020. Update kebijakan tersebut mereka bagi menjadi empat tahap yaitu periode awal, periode wabah, periode stabil, serta periode kontrol-pencegahan). Mereka kemudian meneliti fitur-fitur linguistik yang telah mereka dapatkan dan menelusurinya berdasarkan tahapan tersebut. Setelah itu dilakukan test ANOVA untuk mengetahui perbedaan keempat tahapan tersebut.

Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa terdapat 11 kategori emosi yang banyak terkandung dalam ungkapan-ungkapan kosakata masyarakat di media massa. Adapun ke-11 kategori emosi tersebut mencakup ‘takut,’ ‘kecewa,’ ‘bersalah,’ ‘merasa kehilangan,’ ‘marah,’ ‘panik,’ ‘merasa diberkahi,’ ‘iman,’ ‘cinta,’ ‘pujian,’ dan ‘kejutan.’ Ke-11 kategori emosi tersebut memiliki frekuensi kemunculan berbeda dalam tahapan penanggulangan COVID-19.

Penelitian mereka menemukan bahwa penggunaan beberapa kata yang mengandung unsur emosi negatif seperti ‘ketakutan’, ‘kekecewaan,’ ‘rasa bersalah,’ dan ‘kemarahan,’ meningkat secara signifikan pada periode wabah dibandingkan dengan periode awal, sedangkan kata-kata yang berhubungan dengan ‘panik’ dan ‘kepanikan’ menurun secara signifikan pada periode pencegahan dan pengendalian dibandingkan dengan periode wabah.

Kata-kata emosi lainnya yaitu kata-kata yang berhubungan dengan unsur ‘kehilangan’ lebih banyak digunakan pada periode pencegahan dan pengendalian dibandingkan tiga periode lainnya. Masyarakat juga mengungkapkan lebih banyak kata-kata ‘iman’ dan lebih sedikit kata-kata ‘cinta’ pada periode wabah daripada periode awal dan kata-kata yang berhubungan dengan ‘berkah’ lebih banyak digunakan di masa wabah dibandingkan dengan masa stabil dan masa pencegahan dan pengendalian.

Kata-kata yang berhubungan dengan ‘pujian’ lebih banyak digunakan pada periode wabah dan periode stabil dibandingkan dengan periode awal, sedangkan frekuensi kata-kata yang berhubungan dengan ‘kejutan’ sangat rendah hanya pada periode awal.

Studi yang dilakukan oleh para peneliti gabungan ini memiliki kontribusi besar dalam memahami respons emosi publik selama COVID-19. Pemahaman ini sangat penting karena memiliki implikasi besar pada ketersediaan data base sosial yang akurat yang berguna bagi pemerintah untuk melaksanakan tindakan pencegahan dan pengendalian pandemi berbasis bukti akurat dan tidak berbasis perkiraan saja seperti yang banyak dilakukan oleh pemerintah-pemerintah di dunia dalam menanggulangi COVID-19.

Sumber:

Su, Y et.al (2021).  Public emotion responses during COVID-19 in China on social media: An observational study. Hum Behav & Emerg Tech. 3:127–136. wileyonlinelibrary.com/journal/hbe2. DOI: 10.1002/hbe2.239.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: