Mozaik Caréta Dâri Madhurâ: Asal Usul Desa Pulau Mandangin Dan Tragedi Bangsacara-Ragapadmi

Oleh: Iqbal Nurul Azhar

Kisah ini diambil dari buku Mozaik Caréta Dâri Madhurâ dengan penulis: Iqbal Nurul Azhar, Hani’ah dan Erika Citra Sari H, yang terbit di Kota Malang, 2018 dengan penerbit Intelegensia Media, ISBN: 978-602-5562-80-8. Adapun buku tersebut telah tercatat di Dirjen HKI dengan hak kekayaan intelektual jatuh kepada tiga penulis tersebut dengan nomor dan tanggal permohonan HKI: EC00201933330, 20 Maret 2019, serta Nomor perncataatan adalah 000137926

Kata “Mandangin,” menurut versi orang-orang yang tinggal di pulau itu, di buat oleh seorang pedagang yang sedang membawa kulit kelapa untuk dijual. Pedagang ini (tidak terlalu jelas namanya dalam banyak versi legenda, tetapi satu versi menyebutnya bernama Gemma dan karenanya kita akan menggunakan nama ini sebagai tokoh utama) berasal dari Sumenep. Suatu ketika Gemma bermaksud melakukan perjalanan dari Sumenep menuju Pasuruan melalui selat Madura kemudian melanjutkan perjalanan menuju laut Jawa untuk menyinggahi daerah-daerah yang lain. Seperti biasa, ia berangkat selepas subuh dari Sumenep dan keluar dari Pasuruan, selepas matahari terbenam.

Suatu siang, angin besar datang menggoyang kapalnya dengan keras. Angin itu menciptakan gelombang yang cukup tinggi sehingga tidak memungkinkan Gemma dan perahunya melanjutkan perjalanan ke Pasuruan. Gamma khawatir perahunya karam diterjang ombak dan mulai memikirkan cara menyelamatkan perahu dan dirinya dari fenomena alam tersebut. Untungnya, dari kejauhan ia melihat sebuah pulau kecil yang sepertinya tidak berpenghuni. Dengan segera ia memutuskan untuk singgah ke pulau tersebut, untuk berlindung dari ombak besar.  

Ketika angin serta ombak besar reda, Gemma melanjutkan perjalanan ke Pasuruan untuk menjual dagangannya. Ketika sampai di Pasuruan, ia ditanyai oleh sesama pedagang yang memiliki nasib sama tentang bagaimana ia sanggup bertahan dari terjangan ombak tersebut. Gemma menuturkan cerita bahwa ia selamat karena berlabuh di pulau kecil di tengah lautan. Ia mengatakan bahwa ia “mandeg bila angin” (ia berhenti jika ada angin)

Malam segera tiba, dan proses perdagangan nampaknya harus di hentikan. Dengan demikian, Gemma harus keluar dari Pasuruan kembali menuju Sumenep atau menuju daerah-daerah lainnya. Malam itu, angin berpihak kepada para pedagang. Laut ketika itu sedang tenang dengan angin yang sangat baik. Letih dan sedikit cemas khawatir kejadian yang sebelumnya datang lagi, Gemma memutuskan langsung pulang ke Sumenep.

Beberapa hari kemudian, Gemma bermaksud kembali lagi ke Pasuruan. Kali ini, ia membawa beberapa rekan berperahu bersamanya. Pagi sudah memanggil para pedagang untuk bersiap untuk melakukan perjalanan untuk berdagang. Dengan beriringan, rombongan itu meninggalkan Sumenep menuju Pasuruan.

Kali ini, angin dan ombak besar datang kembali.  Rekan-rekan pedagang Gamma cemas melihat fenomena alam ini. Untungnya, Gemma yang pernah memiliki pengalaman yang sama sebelumnya dapat bersikap tenang. Di pimpinnya rombongan itu menuju ke pulau tak berpenghuni tempat Gemma sebelumnya berlindung dari angin. 

Sesampainya mereka di pulau, mereka langsung mencari tempat yang tenang untuk beristirahat. Sambil mengobrol menunggu angin reda, Gemma berkata bahwa pulau itu adalah pulau yang bagus. Tempat yang bisa mereka jadikan jujukan jika ada badai. Jika ada angin besar, para nelayan dan pedagang dapat berlindung di pulau itu juga. Mandeg anginnya (berhenti anginnya) jika bertemu pulau itu.

Dari situlah para pedagang lantas dari mulut ke mulut menceritakan jika ada pulau di tengah laut yang tak terpenghuni yang bisa dijadikan tempat berlindung jika ada angin dan ombak besar menerjang perahu. “mandeg angina” kata mereka. Kata “mandeg angina” semakin lama semakin popular. Kini, kata itu telah mengalami perubahan pengucapan menjadi Mandangin untuk merujuk pada pulau penyelamat nelayan itu.

Pulau Mandangin adalah pulau yang  cukup dikenal dikalangan nelayan Madura. Selain karena pulau itu dulunya adalah merupakan tempat pengasingan bagi para tahanan perang dan politik Bangsa Belanda, atau juga tempat karantina para penderita lepra. Pulau itu juga identik dengan kisah cinta dua anak manusia yang melegenda yaitu kisah cinta antara Bangsacara dan Ragapadmi. Kisah cinta ini sangat tragis serta dapat disandingkan dengan kisah cinta bangsa-bangsa lain seperti kisah tragedi Romeo dan Juliet, Sampek Eng Tay, atau Laila Majnun. Beginilah ceritanya.

Dahulu kala, hiduplah seorang pemuda yatim  yang sangat berbakti kepada ibunya bernama Bangsacara. Pemuda dan ibunya ini hidup di sebuah desa di tepi hutan yang berada dalam kekuasaan kerajaan Pakacangan.                

Pemuda ini setiap hari melakukan berbagai macam aktifitas untuk membantu ibunya, seperti bertanam dan memberi makan hewan peliharaan. Setiap pagi dan sore ia berjalan cukup jauh untuk mendapatkan air bersih untuk diminum mereka berdua.

Terkadang juga, ia berkelana kehutan untuk mencari kayubakar dan berburu rusa. Bangsacara adalah seorang pemuda yang lumayan lihai berburu. Biasanya, ketika berburu, ia ditemani dua ekor anjingnya yang bernama Si Ceplok dan Si Tanduk (versi yang lain menyebutkan nama dua anjing itu adalah Si Nyaring dan Si Serak).  Kegiatannya itu menempanya menjadi seorang yang kuat secara fisik. Ditambah lagi, ia juga belajar sedikit bela diri dan ilmu kebatinan pada tokoh warga di desa itu. Maka tambah bersinarlah kepribadiannya.

Bangsacara  mempunyai keinginan yang kuat untuk mengabdi pada kerajaan. Ia menganggap, bahwa dirinya adalah milik kerajaan. Mendapatkan banyak berkah dari kerajaan, maka seharusnyalah pula ia berbakti pada kerajaan. Sejak kecil, Bangsacara seringkali bertanya perihal kerajaan dan kemungkinannya untuk dapat bekerja di kerajaan.

Melihat keinginannya yang kuat, sang ibu kemudian mencarikan cara agar keinginan Bangsacara ini dapat terwujud. Ia ingat bahwa suaminya dulu pernah punya teman bernama Birja, seorang laki-laki tua, yang memiliki hubungan cukup dekat dengan keraton. Sang ibu mengajak Bangsacara untuk menghadap Birja. Melihat kesungguhan Bangsacara dan potensi besar yang ada padanya, Birja menyanggupi permintaan istri temannya itu untuk membawa Bangsacara menghadap kepada raja.

Potensi Bangsacara yang besar ternyata juga dilihat oleh raja Pakacangan yang bernama raja Bidarba. (Menurut beberapa sumber, raja Pakacangan yang bernama Bidarba ini tidak lain adalah Pangeran Pakacangan, putra dari Lemah Duwur (Raden Pratanu) dari Arosbaya. Diperkirakan kedua tokoh ini  hidup di sekitar abad XVI, sebab Lemah Duwur  berkuasa di Arosbaya  pada tahun 1531- 1592). Melihat potensi ini, tidak terlalu sulit bagi Raja Bidarba untuk menerima Bangsacara bekerja sebagai pelayan keraton. Bangsacara yang sangat bahagia cita-citanya terkabul berjanji pada dirinya sendiri akan sekuat tenaga melayani kerajaan. 

Di kerajaan, Bangsacara ditempatkan sebagai pengurus pertamanan. Di tempat barunya itu, ia bekerja dengan keras. Ia curahkan apa yang ia tahu dan ia miliki untuk menjadikan pekerjaannya sempurna. Ia sulap wajah taman kerajaan menjadi taman tercantik yang ada di Pulau Madura. Kemampuan Bangsacara ini tentu saja di luar dugaan banyak orang. Akibatnya, banyak yang kemudian menjadi simpati kepadanya. Tidak butuh waktu lama baginya untuk membuat raja Bidarba dan warga kerajaan yang lain menjadi sayang padanya.

Sebagai petugas pertamanan, Bangsacara tentu saja punya akses yang luas, meskipun terbatas, di kerajaan. Karena selalu berinteraksi dengan taman, Bangsacara seringkali bertemu dengan anggota-anggota kerajaan. Ia bahkan setiap hari  bertemu dengan ketiga puteri raja yang cantik-cantik karena puteri-puteri ini senang bermain-main di taman. 

Diantara ketiga puteri raja ini, si bungsu yang bernama Dewi Ragapatmi sangat dekat berkomunikasi dengan Bangsacara (Versi lain menyebutkan bahwa Ragapadmi ini adalah selir kelima dari raja Bidarba. Versi ini tidak diceritakan dalam buku ini, atas beberapa pertimbangan). Selain usianya yang terpaut tidak terlalu jauh, bisa jadi, Ragapadmi merasa nyaman berteman dengan Bangsacara karena di keraton, tidak banyak orang yang nyambung ia ajak bicara. Puteri itu merasa, Bangsacara adalah orang yang selalu paham akan keinginannya. Karena kedekatan ini, seringkali Bangsacara menjadi salah tingkah.  Dewi Ragapadmi adalah tuannya. Ia sungkan, tunduk dan hormat padanya. Namun harus diakui, kecantikan Ragapadmi selalu membuat dirinya terkesima.

Pertemanan ini berlangsung cukup lama. Simpati Ragapadmi pada Bangsacarapun makin membesar. Suatu ketika, Ragapadmi meminta kepada ayahandanya agar Bangsacara dipindah tugaskan ke dalam keraton sebagai kepala pelayan. Kebetulan, pada waktu itu, kepala pelayan yang lama meninggal, Keratonpun sedang sibuk mencari pengggantinya.  Usulan ini diterima dengan senang hati oleh raja Bidarba. Sejak saat itu, Bangsacara menjadi  sentana dalam.

Berita tentang pengangkatan dirinya segera ia sampaikan pada ibunya dan Birja di desa. Alangkah senang hati ibunya dan Birja mendengar kabar ini.  Meskipun demikian, mereka berdua berpesan kepada Bangsacara untuk selalu menjaga sikap, tidak arogan, tetap menghormati orang lain dan bekerja dengan keras.

Ragapadmi yang permintaannya ternyata ditanggapi oleh ayahnya dengan baik, merasa senang dan hatinya berbunga-bunga. Dengan ditempatkannya Bangsacara di dalam keraton, ia kini memiliki semakin banyak kesempatan untuk  bertemu dengan laki-laki yang telah mencuri hatinya.

Bangsacara bukannya tidak sadar akan perasaan Ragapadmi. Iapun juga menyadari bahwa dirinya semakin lama semakin menaruh hati pada puteri itu. Namun sebagai laki-laki yang baik, apalagi setelah ia diberi wejangan  oleh ibunya dan Birja bahwa ia harus dapat menjaga diri dan kehormatannya, Bangsacara berusaha menetralkan perasaan sukanya itu.

Perasaannya pada sang putri yang dirasakannya saat ini adalah perasaan yang sangat tidak patut. Tidak patut seorang pelayan mencintai tuannya sendiri. Pernah suatu ketika ia bersumpah di depan ibunya dan Birja untuk tidak akan tertarik, mengganggu apalagi mengambil istri tuannya sendiri, jika tidak, maut akan menjemputnya. Mendengar sumpah ini, Bangsacarapun  ditegur oleh ibu Bangsacara dan Birja. Memang mustahil Bangsacara menikahi tuannya, tetapi sumpah dengan konsekuensi berujung pada kematian memang tidak selayaknya dibuat mainan.  

Ternyata tidak semua orang di keraton senang pada pengangkatan Bangsacara sebagai sentana dalam. Satu sosok yang sangat tidak senang akan pengangkatan ini adalah seorang patih bernama Bangsapati. Bangsapati tidak senang pada Bangsacara karena sebenarnya ia telah mempunyai calon sendiri untuk menempati posisi sentana dalam yang kosong tersebut yaitu keponakannya sendiri. Menurutnya, keponakannya itu lebih pantas dari Bangsacara yang hanya rakyat biasa. Selain itu, ia merasa agak tersinggung dan merasa disepelekan tidak diajak berembuk oleh raja Bidarba untuk menentukan pengganti sentana dalam yang telah meningal. Penunjukan langsung lanpa musyawarah menurutnya di luar kebiasaan keraton.

Ketidaksukaan Bangsapatih pada Bangsacara menjadikan dirinya berupaya untuk menyingkirkan Bangsacara dari dalam keraton. Pada suatu malam, ketika Bangsacara bermaksud pulang dari keraton menuju ke kediamannya, di tengah jalan ia dicegat oleh dua orang tak dikenal. Tanpa tegur sapa kedua orang tak dikenal ini menyerang Bangsacara dengan dua senjata berjenis pedang. Untungnya, Bangsacara yang sedikit memiliki bekal kanuragan mampu membela dirinya dengan baik. Tidak hanya membela diri, ia bahkan mampu juga melumpuhkan keduanya.  Dua senjata yang digunakan penyerang berhasil ia rampas. Mengetahui akan hal ini, para penyerang itu lantas melarikan diri.

Bangsacara menjadi heran akan hal ini. Ia merasa tidak memiliki  musuh seorangpun di kerajaan. Lantas mengapa ada orang yang menyerang dirinya.

Keesokan harinya, ia bekerja seperti biasa. Di keraton, Bangsacara  tidak menceritakan kepada siapapun  perihal penyerangan kepada dirinya. Ia berpikir, jika hal itu diceritakan, pastilah hal itu akan membuat geger keraton dan para petugas keamanan akan dipersalahkan karena diangap tidak bekerja dengan baik. Selain itu, ia juga tidak punya ide tentang sosok penyerangnya. Iapun memilih diam sambil mengamati. Di keraton, sepertinya semua orang terlihat baik. Hanya Patih Bangsapatihlah seorang yang seringkali bersikap acuh bahkan angkuh di depannya. Tapi Bangsacara memaklumi itu. Ia menganggap, Bangsapatih bersikap demikian adalah untuk menjaga wibawanya dari para bawahannya.

Mekipun ia tidak bercerita pada seorangpun di keraton, namun ketika ia punya kesempatan pulang, ia langsung mengungkapkan keheranan sekaligus keprihatinannya pada Birja. Mendengar hal ini, Birja memberikan peringatan pada Bangsacara untuk lebih hati-hati. Iapun meminta Bangsacara berperilaku biasa, bahkan jika bisa, Bangsacara harus membuat lebih banyak kebaikan di keraton untuk meminimalisir orang-orang yang tidak suka padanya. Sepertinya, Birja mulai merasa bahwa jabatan baru Bangsacara telah membuat seseorang atau beberapa orang di keraton menjadi tidak suka pada Bangsacara.

Menjumpai bahwa dua orang suruhannya telah gagal memberikan pelajaran pada Bangsacara, Bangsapatih menjadi sadar bahwa Bangsacara ternyata bukanlah orang sembarangan yang dapat diremehkan. Meskipun ketidaksukaannya timbul semakin besar, namun ia berusaha merubah sikap sebagai taktik untuk menghadapi Bangsacara. Jika semula ia bersikap angkuh dan terkadang menampakkan permusuhan, kali ini, ia menunjukkan sikap bersahabat dan mau bekerjasama.

Perubahan sikap itu terlihat jelas di mata Bangsacara. Pertama kali ia menjadi curiga jangan-jangan penyerangan beberapa waktu lalu yang terjadi padanya adalah atas suruhan Bangsapatih. Namun ia buang jauh-jauh pikiran itu. Hati Bangsacara yang baik tidak membuatnya berpikir lebih lanjut untuk kemudian berprasangka buruk dan balik membenci Bangsapatih. Ia berpikir, buat apa Bangsapatih repot-repot membencinya. Bidang pekerjaan mereka berada pada dua dunia yang berbeda dan jarang atau bahkan tidak pernah bersinggungan.

Waktu-waktu selanjutnya adalah waktu-waktu yang manis bagi Bangsacara dan Ragapadmi. Kedekatan mereka semakin terlihat. Tetapi karena Bangsaacara pandai menjaga diri, kedekatan mereka dimata orang-orang istana ditangkap sebagai kedekatan seorang puteri dengan pelayannya. Tidak terlalu banyak masalah yang mereka berdua jumpai selama proses jatuh cinta yang tertutup ini berjalan, hingga suatu ketika Ragapadmi sakit.

Suatu ketika, Ragapadmi terkena penyakit kulit sejenis cacar (versi lain menyebut bahwa sakit yang diderita Ragapadmi adalah sakit lepra/kusta mengingat kedekatan ceritanya dengan pulau Mandangin). Penyakit ini semakin lama semakin parah dan menggerogoti seluruh tubuh Ragapadmi. Bintik-bitik kecil dikulit menjadi besar dan meletus melahirkan borok yang tidak kunjung kering. Telah banyak dukun, tabib diundang ke keraton untuk mengobati borok Sang Putri, namun upaya mereka semua tidak berhasil. Di keraton, penyakit Ragapadmi menjadi isu yang tidak pernah berhenti dibahas. Makin lama, makin banyak orang yang enggan berada dekat-dekat dengan Ragapadmi karena luka-luka borok yang ada di sekujur tubuh Ragapadmi mulai membusuk dan menyebarkan bau yang tidak sedap. Kecantikan Ragapadmi makin luntur, dan berubah menjadi keburukan.

Ketika semua orang mulai menjauhi Ragapadmi, hal ini ternyata tidak berlaku pada Bangsacara. Sikap Bangsacara masih tetap biasa pada Ragapadmi. Tidak ada satupun yang berubah bagi Bangsacara. Ia tahan berlama-lama melayani Ragapadmi jika Ragapadmi atau sang raja memintanya. Seburuk apapun kondisi fisik Ragapadmi, di mata Bangsacara, ia tetap junjungannya. Ia tetap orang yang dikasihinya.

Dalam kondisi buruk ini, Bangsapatih mulai beraksi. Ia mulai membisiki raja dengan hasutan-hasutan jahat. Ia mengatakan bahwa Ragapadmi telah terkena penyakit menular yang bisa menjalar pada warga keraton yang lain. Selain itu, berita tentang penyakit sang putri telah menyebar kemana-mana dan menimbulkan kasak-kusuk yang tidak jelas yang menyatakan tidak pantas seorang putri yang buruk rupa dan menjijikkan tinggal di keraton.

Raja sebenarnya tidak termakan hasutan ini. Ia tidak perduli seburuk apa kondisi putrinya itu. Raja menganggap, putrinya itu masih cantik seperti dulu. Ia adalah darah dagingnya,  putri yang sangat ia kasihi dan masih sangat layak tinggal di istana. Meskipun tingggal tulang-belulangpun, ia akan tetap mempertahankannya di keraton.

Meskipun pendirian raja kukuh, tetap saja ada kegelisahan di hatinya. Ia khawatir tentang penyakit putrinya itu, apa benar menular ataukah tidak. Jika penyakit putrinya itu menular, maka seluruh warga keraton bisa jadi berada dalam ancaman penyakit memalukan itu.

Untuk mengurangi kegalauan hatinya, raja lantas meminta masukan saran dari para patihnya dalam sebuah pertemuan di paseban keraton.  Di pertemuan itu, Patih Bangsapati mengusulkan kepada raja agar Ragapadmi “di sapih” saja (untuk mengganti kata diasingkan) dari keraton. Ide ini diterima meskipun menyisakan pertanyaan yang besar yaitu bagaimana cara menyapih Ragapadmi dan untuk alasan apa sapih itu dilakukan.

Setelah  terjadi pembicaraan yang panjang, diskusi itu akhirnya sampai pada sebuah kesepakatan bahwa Ragapadmi hanya bisa disapih dengan alasan dinikahkan dengan seseorang yang berada di luar keraton. Dengan demikian, Ragapadmi bisa diboyong keluar keraton. Selain itu, dengan menikahkan Ragapadmi dengan seseorang, orang tersebut diharapkan dapat merawat Ragapadmi dengan serius dan fokus hingga sembuh.

Kesepakatan ini kemudian memunculkan pertanyaan yang lain, yaitu siapakah yang bersedia menikahi Ragapadmi. Pangeran-pangeran kerajaan lain jelas akan berat menikahi seorang putri yang buruk rupa. Saat itu pula Bangsapati mengusulkan Bangsacara sebagai calon suami Ragapadmi. Meskipun ia tidak suka pada Bangsacara, namun pikiran licik Bangsapati menuntunnya untuk mengajukan saran itu. Pikirnya, ini adalah momentum yang tepat untuk mengeluarkan Bangsacara dari dalam keraton. Bangsapati sangat sadar bahwa Bangsacara itu sangat setia kepada Ragapadmi. Ia juga mengerti perilaku Ragapadmi yang menaruh hati pada Bangsacara.  Karena sikap Bangsacara dan Ragapadmi mendukung hal ini, usulannya ini pasti tidak akan banyak mendapat penolakan. Dengan menikahnya Bangsacara dan Ragapadmi, maka mereka berdua akan keluar dari keraton. Dengan demikian, posisi sentana dalam akan kosong sehingga keponakannya dapat dengan mulus mengisinya.

Hadirin yang datang pada diskusi itu sepenuhnya menyetujui usul Bangsapati tersebut. Merekapun tambah menjadi lega ketika Bangsacara yang dipanggil menghadap untuk ditanya kesediannya menikahi Ragapadmi tanpa berpikir panjang langsung menerima permintaan tersebut. Bangsacara di hati kecilnya, sebenarnya merasa berat akan permintaannya ini karena ia ingat, telah pernah bersumpah tidak akan pernah menikahi tuannya atau maut akan menjemputnya. Namun ketaatannya pada raja Bidarba dan rasa sayangnya pada Ragapadmi menyebabkan perasaan takutnya akan konsekuensi sumpah itu ia kesampingkan. Perintah raja adalah segalanya baginya.

Bangsacara dan Ragapadmi dinikahkan secara sederhana. Dengan adanya pernikahan ini, keinginan Bangsapati menjadi terkabul. Demikian pula Ragapatmi yang selalu ingin berdua dengan Bangsacara. Beberapa saat setelah pernikahan, Bangsacara membawa Ragapadmi keluar keraton.  Dengan dibawanya Ragapadmi keluar keraton, secara otomatis, tugas Bangsacara di keraton telah di lepas dan dialihkan ke orang lain.

Kepergian Radapatmi dari keraton  tidak diiringi oleh siapapun. Tidak ada seorangpun yang melepas mereka secara resmi. Sepertinya semuanya menjadi lega atas kepergian mereka berdua kecuali raja dan permaisuri. Hati mereka teriris melihat kepergian anak perempuan mereka yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan secara sederhana. Tapi mereka tidak berdaya. Jika kepergian mereka dirayakan, masyarakat akan paham tentang kondisi sang putri, dan tentu saja akan menyalahkan kerajaan karena membiarkan sang putri pergi dalam kondisi yang buruk seperti itu.

Bangsacara menggendong Ragapadmi menuju rumahnya di pinggir desa. Ragapadmi yang diperlakukan seperti anak kecil merasa senang dan bersikap manja pada Bangsacara. Kemanjaan inilah yang membuat Bangsacara menjadi berbunga-bunga hatinya. Mereka berdua merasa, perjalanan itu adalah perjalanan terindah dalam hidup mereka.

Ia membawa Ragapadmi ke rumahnya dengan harapan ia dapat berkonsentrasi menyembuhkan Ragapadmi. Selain itu, ia juga berharap bahwa dengan adanya ibunya yang membantu merawat Ragapadmi, kesembuhan Ragapadmi akan semakin cepat.

Setiba di pinggir desa, ibu Bangsacara menerima mereka dengan rasa syukur dan bahagia. Mulai hari itu ibu Bangsacara tidak hidup sendiri. Demikian juga Ragapadmi, kini ia tidak lagi merasa hidup terasing karena Bangsacara dan ibunya sangat baik padanya. Seperti yang diharapkan oleh Bangsacara, ibunya membantu dirinya merawat Ragapadmi dengan telaten. Konon, obat yang diberikan oleh ibunya pada Ragapadmi adalah obat tradisional dan sudah secara turun-temurun dilakukan oleh orang-orang di kampungnya.

Untuk membersihkan tubuhnya dari kuman, ibu Bangsacara memandikan Ragapadmi dengan air kapur. Mandi khusus ini dilakukan setiap pagi dan sore hari. Ini dilakukan agar kondisi penyakit ragapadmi tidak bertambah parah dengan munculnya kuman baru.

Untuk mengobati luka-lukanya, setiap pagi,  Ibu Bangsacara pergi ke pasar untuk membeli sebongkah prusi Setibanya di rumah, ia langsung mengambil lumpang dan antan. Prusi itu dihancurkannya dengan alat itu. Kemudian tepung prusi itu dijemur. Setelah kering, tepung itu ditaburkan ke sekujur tubuh Ragapadmi seperti bedak.

Selain hal-hal di atas, oleh ibunya, Bangsacara juga diminta setiap pagi pergi ke hutan untuk menangkap ayam hutan. Bangsacarapun melakukan hal ini dengan ditemani dua ekor anjing setianya Si Ceplok dan Si Tanduk. Hasil tangkapan itu kemudian dimakan bertiga. Adapun air rebusan tulang-belulangnya oleh ibunya dijadikan sebagai obat untuk menyembuhkan Ragapadmi. Air itu dijadikan sebagai sup penguat stamina tubuh yang harus diminum berulang-ulang hingga keluhan yang diderita Ragapadmi berkurang. Harapannya dengan meminum sup itu, kondisi tubuh Ragapadmi menjadi kuat dan memiliki daya tahan untuk mampu melawan kuman melalui tubuhnya sendiri.

Itulah cara pengobatan penyakit kulit yang dilakukan oleh ibu Bangsacara. Entah karena memang ramuan itu manjur, atau karena faktor sugesti dari ketiga orang tersebut, atau karena Tuhan sayang kepada mereka, setelah satu bulan berlalu, usaha mereka  mulai menampakkan hasilnya. Ragapadmi, menantunya, berangsur sembuh. Gata-gatal di sekujur tubuhnya sudah tidak terasa lagi. Dua bulan berikutnya adalah masa pemulihan luka. Setelah dua bulan masa pemulihan itu berlalu,  Sang Putri sudah sembuh sempurna. Paras rupawan Ragapadmi  kembali seperti sedia kala.

Ibu Bangsacara merasa sangat beruntung. Ia telah mendapatkan seorang mantu yang baik, cantik, terhormat pula. Meskipun keluarga Bangsacara tidak banyak menceritakan tentang Ragapadmi kepada warga desa, tetapi sepertinya semua orang telah tahu bahwa di desa mereka telah hidup seorang putri raja yang jelita. Semua orang di kampungnya  sangat menghormati Bangsacara dan istrinya. Mereka paham, bahwa  Bangsacara kini adalah menantu raja. Meskipun ibu Bangsacara merasa sangat tersanjung dan bahagia atas kehadiran mantunya itu, hati kecilnya resah mengingat sumpah yang pernah di buat Bangsacara dulu.

Berita kesembuhan  Ragapatmi terdengar hingga di keraton termasuk juga ke telinga Bangsapati. Untuk membuktikannya, Bangsapati dengan menyamar datang ke desa tempat Bangsacara tinggal. Setelah mengetahui bahwa berita kesembuhan Ragapatmi tersebut adalah benar adanya, sifat iri dan dengkinya muncul kembali. Ia tidak menyangka bahwa Bangsacara dan Ragapadmi yang telah diasingkan dan seharusnya sedang menderita, malah kini makin mendapatkan kebahagiaan. Iapun mulai memutar akal untuk menghancurkan Bangsacara.

Ketika raja mendengar tentang kesembuhan putrinya, raja memanggil para patihnya untuk menanyakan kebenaran berita tersebut. Sebagai patih yang pertama kali mengecek kebenaran berita ini, Bangsapatipun menuturkan dengan sebenarnya apa yang ia lihat. Dalam penjelasannya, ia juga memasukkana hasutan-hasutan kepada raja. 

Ia mengatakan bahwa Ragapadmi telah sembuh dan kembali lagi menjadi cantik. Dengan kembalinya sang putri, kondisi putri yang sangat cantik menjadi bahan olok-olok sendiri dalam masyarakat. Dengan bahasa yang penuh hasut ia mengatakan bahwa sebagian rakyat yang ia temui mengatakan bahwa tidak pantas bagi Ragapadmi untuk tinggal di rumah Bangsacara yang kecil dan kumuh.

Namun hasutan ini ditanggapi raja dengan tanggapan yang ringan. Masalah tempat tinggal Bangsacara yang sederhana adalah perkara yang mudah. Ia tinggal meminta tukang kerajaan untuk membangunkan rumah besar bagi keduanya. Jika sudah berubah, tidak akan ada lagi masyarakat yang mengolok-olok keduanya.

Mendengar tanggapan ini, Bangsapati kemudian mencari dalih yang lain. Ia mengatakan selain masalah rumah, ada masalah lain yang perlu diperhatikan yaitu masalah keamanan. Ia menyarankan sebaiknya Ragapadmi dikembalikan lagi ke keraton agar keamanannya bisa terjaga. Bisa jadi orang-orang yang tidak suka pada raja akan menggunakan segala macam cara untuk mengganggu raja termasuk dengan cara memanfaatkan Ragapadmi. Mendengar saran Bangsapati, raja tetap menjawab dengan santai bahwa masalah itu sangat mudah dilakukan. Karena sudah tidak ada lagi masalah kesehatan yang membebani yang mungkin bisa ditularkan oleh Ragapadmi, maka semua warga keraton akan dengan senang hati menerimanya kembali. Adapun Bangsacara, ia bisa dikembalikan  kembali keposisinya semula  sebagai sentana dalam.

Bangsapati kini seperti kehabisan akal. Dengan menyembah ia lalu menyatakan terus terang bahwa Ragapadmi yang telah kembali cantik pastinya akan menarik banyak pangeran dari kerajaan lain untuk melamarnya. Ia bisa dinikahkan dengan salah satu dari pangeran itu untuk memperkuat ketahanan kerajaan dengan membangun aliansi yang bersifat kekeluargaan. Adapun Bangsacara, Bangsapati mengatakan, bahwa pemuda itu tidak layak untuk menjadi suami Ragapadmi, putri seorang raja. Seorang raja tidak pantas memiliki seorang menantu anak kampung yang miskin. Bangsacara lebih pantas untuk menjadi pelayan, bukan bangsawan.

Mendengar jawaban Bangsapati, raja Bidarba seketika tersulut emosinya. Ia mengatakan bahwa saran menikahkan Bangsacara dan Ragapadmi adalah saran dari Bangsapati. Harusnya Bangsapati ingat akan ini. Jika saran itu berasal darinya, lalu mengapa kini Bangsapati berubah pikiran dan mengatakan Bangsacara tidak pantas untuk anaknya? Apakah Bangsacara hanya dijadikan alat saja untuk menyelesaikan masalah penyakit, namun ketika penyakit itu telah hilang, jasa-jasa Bangsacara dilupakan?

Raja tidak sepakat dengan saran ini. Ini jelas melanggar prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan. Pikir raja, apa kata rakyat nantinya jika mengetahui hanya karena masalah politis, raja Bidarba meretakkan hubungan rumah tangga anaknya sendiri. Tindakan yang tentu saja sangat jauh dari kata bijaksaana. Raja Bidarba tidak mempunyai alasan yang kuat untuk memisahkan mereka.

Mendengar kata-kata raja yang keras ini, patih Bangsapati menjadi ciut nyalinya. Ia akhirnya memilih mematuhi kata-kata raja Bidarba dari pada menentangnya terang-terangan. Bisa saja kepalanya menjadi taruhan. Meskipun demikian, otaknya yang licik berputar terus untuk mencari segala macam cara untuk menyingkirkan Bangsacara.

Tak lama setelah Bangsapati ditimpa kemurkaan raja, Bangsapati segera mengatur muslihat licik untuk merebut Ragapatmi  dari tangan Bangsacara yang tentunya tidak diketahui oleh raja. Kesempatan itu akhirnya datang juga.

Suatu ketika, raja Bidarba mendapat kabar bahwa kerajaannya akan dikunjungi oleh tamu dari kerajaan besar dari negeri seberang.  Tamu itu adalah raja beserta seratus anggota rombongan yang terhormat. Raja Bidarba lantas memanggil patih-patihnya untuk menyiapkan penyambutan. Dikumpulkannya para patih itu di paseban dan dibaginya mereka tugas-tugas yang harus diselesaikan dengan cepat untuk acara penyambutan.

Pada pertemuan itu, Patih Bangsapati mendapatkan tugas menyiapkan bahan untuk suguhan tamu kehormatan. Menurut kabar, raja beserta rombongan yang sedang berkunjung sangat gemar menyantap daging rusa. Dibutuhkan lebih dari tigapuluh ekor rusa untuk membuat hidangan ini.

Patih Bangsapati dengan berat hati menyanggupi perintaan ini. Ia bingung hendak mencari kemana binatang rusa sebanyak itu. Dari kabar yang beredar, Pulau Mandangin adalah tempat yang tepat untuk berburu rusa. Namun untuk mendapatkan rusa dengan jumlah begitu banyak dalam waktu yang terbatas, tentu saja sangat menyusahkan.

Tapi memang patih Bangsapati otaknya licik. Ia ingat pada Bangsacara yang pandai berburu dan karenanya, ia memohon kepada sang raja untuk dapat memanfaatkan Bangsacara memenuhi tugas itu. Karena waktunya mendesak, rajapun memperkenankannya.  Dengan kepala penuh rencana, ia mulai berpikir bahwa tugas ini dapat dijadikan sebagai sarana untuk melenyapkan Bangsacara.

Suatu hari Bangsapati mendatangi Bangsacara di rumahnya. Bangsapati mengatakan kepada Bangsacara bahwa dirinya diutus oleh raja untuk menemui Bangsacara dalam rangka suatu urusan. Bangsapati menyamaikan bahwa raja menginginkan Bangsacara untuk menangkap rusa di pulau  Mandangin sebanyak tigapuluh ekor. Rusa ini akan digunakan untuk menjamu raja dari negeri seberang beberapa hari lagi yang datang dengan membawa seratus rombongan.  Bangsacara diberi waktu empat hari untuk menunaikan tugasnya.

Tanpa berpikir panjang lagi, Bangsacara yang sangat setia kepada raja Bidarba segera berpamitan kepada istrinya dan ibunya.  Ibunya dengan berat hati melepas Bangsacara. Entah mengapa, ia merasakan kegelisahan yang besar. Seakan-akan, ada sesuatu yang beruk akan menimpa Bangsacara. Adapun istrinya, dengan bercucuran mata memintanya untuk berhati-hati. Ia berharap Bangsacara dapat kembali segera. Ia merasa tak sanggup ditinggal lama-lama oleh Bangsacara. Jika ada apa-apa dengan Bangsacara, ia lebih memilih mengakhiri hidupnya dari pada berjuang sendirian melewati hari-hari yang dipenuhi dengan kesendirian. Bangsacara menenangkan hati ibu dan istrinya. Ia mengatakan, ia akan mempersiapkan semuanya dengan baik dan melakukan pekerjaannya dengan hati-hati, dan semuanya akan baik-baik saja.

Bangsacara berangkat malam hari dengan ditemani kedua anjingnya yaitu yaitu Si Ceplok dan Si Tanduk  ke Mandangin dengan menumpang perahu nelayan yang ia kenal. Saat itu pulau Mandangin masih merupakan hutan yang dihuni oleh bermacam-macam satwa sedangkan, penduduknya tinggal hanya di pinggir-pinggir pantai saja.

Pengalamannya dalam berburu dahulu memberinya kepercayaan diri yang tinggi  bahwa ia akan segera memperoleh rusa yang diminta raja tepat waktu. Ternyata keyakinannya tersebut benar. Pada hari pertama  ia berhasil menangkap  sepuluh ekor rusa. Keesokan harinyapun, ia dapat menangkap sepuluh ekor lagi.  Demikian seterusnya. Pada hari keempat, tugasnya telah terselesaikan dengan sempurna. 

Bangsacara terlihat sangat letih melaksanakan tugas ini. Meskipun demikian, ia sangat senang melakukan hal ini untuk sang raja. Karena letih, Bangsacara tertidur dengan nyenyak di bawah pohon dan bermimpi bertemu dengan istrinya Ragapadmi yang jelita.

Beberapa saat terlelap, ia terbangun dengan terkejut ketika mendengar kedua anjingnya  menyalak dengan kerasnya. Setelah kesadarannya pulih, Bangsacara menjumpai bahwa anjingnya menyalak pada tiga sosok laki-laki yang ketiganya ia kenal. Laki-laki pertama adalah Bangsapatih. Adapun dua laki-laki lainnya adalah dua sosok yang pernah menyerangnya dulu.

Belum sempat Bangsacara menanyakan kabar, ketiga laki-laki itu dengan pengecut mengerubungi Bangsacara. Ketiganya menghunus keris dan tanpa ampun menghunjamkan keris mereka ke tubuh Bangsacara. Bangsacara yang tidak siap dan belum sempat menghunus kerisnya, terhuyung limbung sebelum akhirnya tersungkur, tewas. Sebelum tewas, Bangsacara masih sempat memanggil nama istri yang dikasihaninya, Ragapadmi. Konsekuensi dari sumpah Bangsacara ternyata terjadi saat itu.

Kedua anjing Bangsacara yaitu Si Ceplok dan Si Tanduk sepertinya maklum akan  datangnya bahaya maut yang menunggu tuannya. Namun apalah daya mereka dibandingkan dengan tiga laki-laki tangguh itu. Segera setelah tuan mereka tersungkur, keduanya lalu melompat meninggalkan majikannya yang telah terkapar.

Melihat Bangsacara dapat dihabisi dengan mudah, Bangsapati tertawa terbahak-bahak. Kemudian dengan dibantu dua anak buahnya,  Bangsapati  mengangkut rusa hasil tangkapan Bangsacara ke perahu dan kemudian membawanya pulang ke keraton Pakacangan.

Di desa tempat Ragapadmi berada, hati Ragapadmi tiba-tiba berdebar keras. Perasaannya tidak menentu. Ia merasa seakan-akan ada seseorang yang memanggil namanya dari kejauhan. Seketika itu ia teringat kepada suaminya. Kerisauan ini ia utarakan pada mertuanya. Saat mereka berbincang itulah, mereka menjumpai dua anjing peliharaan Bangsacara yaitu si Ceplok dan si Tanduk datang dengan berlari kencang menuju rumah. Kedua anjing  itu segera menghampiri Ragapadmi. Kain panjang Ragapadmi digigit dan ditarik–tariknya. Maka mengertilah Ragapadmi jika suaminya sedang berada dalam keadaan bahaya.

Dengan restu mertuanya, Ragapadmi segera mengikuti kedua anjing itu. Tiba-tiba dari arah timur, tampak tiga sosok tubuh berjalan sambil tertawa terbahak-bahak. Mereka berjalan sambil menghalau rombongan rusa. Rupanya, ketiga orang itu adalah Patih Bangsapati beserta anak buahnya. Ternyata mereka telah meninggalkan Pulau Mandangin.

Melihat rombongan itu, tubuh Ragapadmi gemetar. Ia cepat-cepat bersembunyi di sebelah utara jalan di sisi barat pohon pelle, beberapa langkah dari jalan. Dengan samar, Ragapadmi melihat dan mendengar percakapan yang menunjukkan kegembiraan Bangsapati karena maksudnya menyingkirkan Bangsacara untuk selama-lamanya telah tercapai. Langkah-langkah mereka semakin dekat. Ragapadmi melekatkan tubuhnya ke pohon pelle. Untunglah tidak ada seorang pun yang menoleh.

Setelah rombongan Patih Bangsapati hilang ditelan semak-semak lebat, Ragapadmi, Ceplok dan Tanduk melanjutkan perjalanan. Kedua anjing itu berlari menuju pantai dan langsung menceburkan diri ke laut. Mereka seakan-akan mengatakan bahwa Bangsacara memang benar-benar sedang berada dalam bahaya di seberang sana.

Kekhawatiran Ragapadmi semakin memuncak. Dengan tanpa pikir panjang, iapun ikut menceburkan diri mengikuti anjingnya itu. Entah ia mendapatkana kekuatan dari mana, namun perasaan khawatirnya telah membuat Ragapadmi memiliki kemampuan untuk menyeberangi lautan menuju Mandangin hanya dengan berpeganagan pada ekor kedua anjing tersebut.

Tanpa kesulitan merekapun menyebrang sampai ke Mandangin. Setelah sampai di pantai, dan tanpa istirahat, Si Ceplok dan Tanduk langsung berlari menuju tubuh Bangsacara tergeletak. Alangkah sedih dan hancur hati Ragapatmi manakala melihat suami yang sangat dicintainya sudah tewas dengan dada berlumur darah yang sudah mengering. Dengan histeris, dipeluknya tubuh suaminya yang dicintainya itu. Wajahnya diciuminya serta diguyurnya dengan air matanya.

Tiba-tiba kesadaran Ragapadmi menghilang. Tanpa pikir panjang, Ragapadmi mencabut keris suaminya yang masih terselip di pinggangnya dan dihunjamkan  ke dadanya sendiri. Darah mengucur deras tetapi tak ada rintihan yang terdengar.   Ragapadmi terkulai jatuh memeluk tubuh Bangsacara. Pelukannya makin kuat dan iapun tewas dalam pelukan suaminya.  Sumpah Ragapadmipun terjadi saat itu juga.

Melihat hal itu kedua anjingnya mendengus-dengus bagaikan seseorang yang sedang menangisi kepergian kedua orang majikannya. Seakan turut pula merasakan kesedihan yang dalam, kedua anjing tersebut secara bergantian menusukkan tubuhnya ke keris majikannya itu pula. Kedua anjing itupun mati di tempat itu.

Bangsapati kemudian melaporkan berita kepada raja Bidarba bahwa Bangsacara mendapat kecelakaan dan tewas di pulau  Mandangin ketika berburu rusa. Mendengar laporan  demikian, raja Bidarba menjadi sedih dan berduka. Namun ia tidak bisa melakukan apa-apa karena hidup matinya seseorang semuanaya bergantung pada kehendak Sang Pencipta. Ia hanya heran, mengapa Bangsacara yang dikenalnya teliti dan hati-hati dalam bekerja sampai bisa mengalami kecelakaan yang begitu tragis.                               

Untuk membuat raja  Bidarba segera melupakan Bangsacara, Bangsapati menghibur raja dengan kata-kata manisnya. Ia mengatakan bahwa kematian Bangsacara memang meninggalkan duka. Namun di lain pihak, kematian Bangsacara juga menjadi pencegah turunnya wibawa sang raja di mata raja-raja yang lain.

Sedikit-demi sedikit, sang raja mulai bisa menahan kesedihannya. Ia lantas teringat kepada putrinya Ragapadmi dan memerintahkan prajurit keraton untuk berkunjung ke rumah Bangsacara dan menjemput Ragapadmi kembali ke keraton.  

Utusan itu berangkat ke kediaman Bangsacara dan menjumpai Ragapadmi tidak ada di tempat itu. Ragapadmi rupanya telah menyusul Bangsacara ke pulau Mandangin dengan tergesa-gesa. Mendengar hal itu,  dengan cepat pula raja mengutus prajurit yang lain segera menyusul Ragapadmi ke Mandangin.

Utusan yang kedua segera bergegas ke Mandangin. Di sana, ia menjumpai pemandangan yang tragis. Ia melihat Bangsacara telah tewas dengan luka tusukan. Demikian juga Ragapadmi dan dua ekor anjingnya. Dari apa yang mereka lihat, mereka dapat menyimpulkan bahwa Bangsacara tidak mati karena kecelakaan, namun karena dibunuh. Adapun Ragapadmi, ia tewas karena melakukan bunuh diri. Mungkin tidak kuat menerima duka ditinggal oleh suaminya.

Utusan yang kedua ini kembali ke keraton dan melaporkan semuanya. Mendengar berita itu, raja Bidarba menjadi murka dan memaksa Bangsapati menceritakan yang sebenarnya. Setelah didesak, Bangsapati akhirnya mengakui semuanya. Ia mengakui jika ia telah membunuh Bangsacara. Adapun tentang Ragapadmi, ia tidak memperkirakan bahwa puteri itu akan dapat berbuat sejauh itu dengan membunuh dirinya sendiri.

Raja Bidarba tidak dapat menahan kesalahannya lagi. Dengan kata-kata yang keras, ia memecat Bangsapati sebagai patih sekaligus memerintahkan ponggowa kerajaan untuk membawa Bangsapati agar dihukum mati. Raja Bidarba merasa sangat menyesal tidak mengantisipasi tindakan Bangsapati yang sudah keterlaluan yang sangat memusuhi Bangsacara. Kebencian ini ternyata mengambil korban puterinya sendiri.

Diceritakan pula kira-kira seminggu selepas kematian Bangsacara dan Ragapadmi, tepatnya di malam hari, mendekatlah ke pulau Mandangin  sebuah perahu dagang dari Sumenep yang ingin berlayar ke Palembang. Perahu ini lewat  di selat dekat pulau Madangin dan para penumpangnya melihat sebuah cahaya berkilauan di pulau Mandangin. Semua orang di atas perahu heran sebab cahaya seperti itu belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Nahkoda perahu merasa penasaran, karena itu ia merapatkan perahunya ke pantai pulau Mandangin. Ia bersama beberapa orang bawahannya kemudian turun ke darat menyusuri pantai dan masuk ke dalam hutan mendekati arah cahaya tersebut berasal. Setiba di tempat cahaya tersebut berasal, mereka tertegun dan sangat heran karena mereka menjumpai mayat dua orang manusia, satu laki-laki dan satunya lagi perempuan. Juga ada bangkai dua ekor anjing bersama mereka.

Orang-orang yang datang dari perahu tersebut menganggap cahaya yang terlihat sebagai pertanda kalau kedua orang yang meninggal tersebut merupakan orang-orang yang keramat. Kemudian sang Juragan memerintahkan orang-orangnya untuk mengubur  mayat dan bangkai itu dengan layak.

Tanpa pikir panjang,  mereka langsung menggali kubur. Yang dua berdampingan, yang satu ada di arah bawah untuk Ceplok dan Tanduk. Setelah penguburan selesai, mereka bergegas kembali ke perahu. Tetapi baru saja mereka berjalan beberapa puluh langkah, tiba-tiba seekor gagak putih melayang turun dan hinggap di kayu nisan seraya berkoak mirip suara manusia. Demikian ujarnya. “Barang siapa mengubur mayat, seperti kembang asam layaknya. Kecil tapi besar buahnya.”

Orang-orang yang ada di situ dengan takjub saling berpandangan, Tetapi gagak putih itu telah terbang menghilang. Mereka meneruskan perjalanan.

Sauh dibongkar layat dikembangkan ke atas. Mereka kembali mengarungi gulungan ombak menuju Palembang. Setelah sampai di Palembang, tidak disangka saudagar-saudagar Palembang berduyun-duyun datang menyongsong dengan perahu-perahu kecil hendak membeli dagangan saudagar dari Sumenep itu. Perahu Madura itu penuh manusia berdesak-desak membeli barang, sehingga sebagian dari saudagar Palembang harus sabar menunggu. Jual beli berjalan sangat lancar. Tidak ada tawar menawar. Penumpang perahu itupun takjub bukan kepalang. Rupanya inilah yang disyaratkan oleh gagak putih, demikian pikir mereka dalam hati.

Beberapa bulan kemudian perahu dagang tersebut  kembali ke Sumenep. Ternyata perahu tersebut milik salah seorang anggota keraton Sumenep. Nahoda perahu mengabarkan  kepada raja Sumenep kisah tentang cahaya di pulau Mandangin tersebut serta betapa larisnya  dagangannya di Palembang sehingga mendapat laba yang berlipat ganda. Keberhasilannya tersebut  kemudian dikaitkan dengan  penguburan mayat-mayat di pulau Mandangin itu sehingga raja kemudian memerintahkan agar memperbaiki  kubur mereka dengan bentuk kuburan sebagaimana lazimnya.

Cerita tersebut kemudian tersebar di kalangan pemilik perahu dagang. Mereka berdatangan ke pulau Mandangin  pada saat mereka berlayar melewati pulau tersebut.  Menurut cerita yang berkembang, para pedagang yang mampir di pulau tersebut berziarah ke makam Bangsacara-Ragapatmi dan kedua ekor anjingnya dalam usahanya melariskan dagangan mereka.

Makam  tersebut akhirnya menjadi  tempat ziarahan khususnya bagi mereka kaum pedagang. Demikianlah tokoh legendaris Bangsacara-Ragapadmi dalam kurun waktu yang lama  telah menjadi populer dalam masyarakat Madura sebagai cerita yang melambangkan watak jelek (yang ditokohkan oleh Bangsapati) dan watak luhur (yang ditokohkan oleh Bangsacara)  serta lambang kesetiaan (yang ditokohkan oleh Ragapatmi)  dalam kehidupan manusia. Sebuah kisah tentang cinta sepasang pemuda pemudi yang tidak lekang oleh waktu. Kisah cinta yang melegenda yang akan selalu ada dalam ingatan orang Madura.

DAFTAR ISI BUKU
Mozaik Caréta Dâri Madhurâ: Antologi Cerita Rakyat Para Penghuni Pulau Madura

KATA PENGANTAR DARI PENULIS iii
DAFTAR ISI vi

LEGENDA MASYHUR MADURA
Asal Muasal Kata Madura 1
Jokotole, Legenda dari Madura 14
Ké Lésap dan Asal Usul Bangkalan 55
Legenda Panji Laras 69
Asal Usul Desa Pulau Mandangin dan Tragedi Bangsacara-Ragapadmi 78
Asal Usul Mengapa Orang Madura Menjadikan Jagung Sebagai Makanan Pokok 101
Asal Usul Kerapan Sapi dan Desa Parsanga 109
Asal Muasal Desa Pebabaran dan Kisah Tentang Keberanian Pangeran Trunojoyo Dalam Membela Rakyat Madura 114
Asal Muasal Munculnya Fenomena Carok dan Digunakannya Clurit Sebagai Senjata Tradisional Orang Madura 123

SUMENEP
Legenda Banyak Wide dan Asal Usul Sumenep 131
Asal Usul Kampung Mambang dan Desa Banasare 141
Asal Usul Desa di Pulau Gili Raja 145
Asal Usul Desa Aeng Panas 153
Asal Usul Batu Cenning Di Pandabah dan Jaddih Bangkalan, dan Dusun Ghunong Pekol Sumenep 156
Asal Usul Desa Gersik Putih, Kasengan dan Beraji 164
Asal Usul Karang Duak 170
Asal Usul Batu Cenning dan Desa Semma’an 173
Asal Usul Desa Beluk Raja 179
Asal Usul Desa Aeng Baja Rajah 185
Asal Usul Desa Ambunten dan Legenda Karang Menangis 190
Asal Usul Desa Karduluk 195
Asal Usul Desa Lalangon 200
Asal Usul Desa Bakeong 204
Asal Usul Desa Pamoangan 208
Asal Usul Desa Panaongan 212
Asal Usul Sumber Kacceng 216
Bhindhara Saod dan Asal Usul Desa Dungkek 220
Legenda Kera Diajar Ngaji 227

PAMEKASAN
Asal Usul Desa Sotabar Pamekasan 232
Asal Usul Somor Jhejjher dan Somor Ghendhis Desa Plakpak Kecamatan Ghentenan Pamekasan 235
Asal Usul Desa Galis Pamekasan 240
Asal Usul Api Tak Kunjung Padam 243
Asal Usul Sombher Kolla Kaljan Dempo-Timur Pasean Pamekasan 250
Asal Usul Pamekasan dan Kelurahan Kol Pajung 255
Asal Usul Kolam Si Ko’ol 259
Asal Usul Desa Pangbhâtok, Dusun Kosambih dan Kampung Aéng Nyono’ 265
Asal Usul Mengapa Air Laut Itu Asin 274
Asal Usul Kampung Begandan 278
Asal Usul Desa Muangan, Daerah Léngker Paté’, dan Desa Batu Ampar (Timur) 281
Asal Usul Desa Sopa’ah 90
Asal Usul Desa Kaduara Barat (Pamekasan) dan Kaduara Timur (Sumenep) 297

SAMPANG
Legenda Putri Nandi dan Asal Usul Desa Karongan 300
Legenda Sang Penjaga Pantai Taralam 304
Asal Usul Desa Tragih dan Torjunan 310
Asal Usul Desa Napo 314
Asal Usul Desa Banyuates 320
Asal Usul Desa Sokobanah 324
Asal Usul Desa Nagasareh 332
Asal Usul Desa Bapelle 338
Asal Usul Dusun Kajuabuh 342
Asal Usul Desa Kalangan Prao 345
Asal Usul Desa Banyusokah dan Dusun Sadah 349
Asal Usul Desa Tapa’an 355
Asal Usul Dusun Madegan 361
Asal Usul Desa Lepelle 364
Asal Usul Desa Kamoning 368
Asal Usul Desa Polagan 372

BANGKALAN
Asal Usul Blega 376
Asal Usul Pasarean Aeng Mata Ebhu dan Desa Buduran 385
Asal Usul Berkoneng dan Desa Ghili 390
Asal Usul Desa Kampak 396
Asal Usul Mengapa Warga Trogan Tidak Makan Mondung Dan Warga Berbelluk Menjadi Pengrajin Lencak 402
Asal Usul Pancoran dari Desa Tambak Agung 408
Asal Usul Desa Paterongan 415
Asal Usul Kampung Kramiyan 421
Asal Usul Arosbaya 426
Legenda Masjid Arosbaya 430
Asal Usul Desa Pocong dan Desa Tragah 441
Asal Usul Desa Lembung Gunung 450
Asal Usul Kampung Kramat Tikus 455
Asal Usul Dusun Mancingan 460
Asal Usul Dusun Banyuajuh dan Kampung Beruk 467
Asal Usul Desa Kramat 477
Legenda Si Cantik dari Pedeng 481
Asal Usul Desa Klampés 485

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: