Mozaik Caréta Dâri Madhurâ: Asal Usul Kata Madura

Oleh: Iqbal Nurul Azhar

Kisah ini diambil dari buku Mozaik Caréta Dâri Madhurâ dengan penulis: Iqbal Nurul Azhar, Hani’ah dan Erika Citra Sari H, yang terbit di Kota Malang, 2018 dengan penerbit Intelegensia Media, ISBN: 978-602-5562-80-8. Adapun buku tersebut telah tercatat di Dirjen HKI dengan hak kekayaan intelektual jatuh kepada tiga penulis tersebut dengan nomor dan tanggal permohonan HKI: EC00201933330, 20 Maret 2019, serta Nomor perncataatan adalah 000137926

Konon pada zaman dahulu, berdiri sebuah kerajaan di kaki Gunung Semeru yang dikenal sebagai kerajaan Medang Kamulan. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang Raja yang baik yang bernama Sang Hyang Tunggal. Kraton kerajaan Medang Kamulan dikenal sebagai Kraton Giling Wesi, dan karenanya Sang Hyang Tunggal juga dikenal sebagai Prabu Giling Wesi. Di bawah pemerintahan Raja yang arif dan bijaksana ini, Medang Kamulan menjadi sebuah kerajaan yang makmur dan sentosa.

Sang Hyang Tunggal hidup bersama permaisuri serta putri-putrinya yang cantik. Salah satu Putri baginda Raja yang terkenal karena kebaikan, kecantikan serta cahaya dari tubuhnya adalah Putri Tanjung Sekar yang bergelar Raden Ayu Ratna Doro Gung atau Bendoro Gung.

Kecantikan Bendoro Gung terkenal luas di masyarakat bahkan ke kerajaan-kerajaan tetangga. Karenanya, banyak raja dan pangeran dari negeri tetangga datang untuk melamar. Sayangnya, Bendoro Gung menolak semua lamaran tersebut dengan halus dengan alasan tidak merasa cocok dan belum mendapat petunjuk dari Yang Maha Kuasa.

Bendoro Gung memiliki kegemaran bermain-main di taman sekitar istana kerajaan. Ditemani para Abdi Istana Kerajaan dan pengawalnya, Bendoro Gung dapat seharian bermain bunga dan menganyam dedaunan di tempat tersebut. Suatu ketika, Bendoro Gung merasa sangat mengantuk dan tertidur di ayunan yang ada di taman. Para dayang dan pengawal tidak berani membangunkan Sang Putri. Sang Putripun pulas tertidur. Dalam tidurnya, ia bermimpi melihat Mortéka (Bintang Timur)yang begitu indah di angkasa. Putri merasa aneh dengan Mortéka tersebut karena ketika diamati, Mortéka itu terasa makin mendekat padanya. Semakin lama semakin mendekat hingga akhirnya Mortéka itu tepat berada di depan wajahnya. Secara tak terduka, Mortéka itu masuk ke tubuh Sang Putri melalui mulutnya. Putripun merasa ketakutan dan berteriak dengan keras yang menyebabkan ia terbangun dari tidurnya.

Sang Putripun bergegas meninggalkan taman yang indah itu untuk kembali ke istana karena takut untuk mengingat mimpinya. Abdi Istana dan Pengawalnya dengan terheran-heran mengikuti langkahnya yang terburu-buru menuju istana. Di dalam kamarnya, Sang Putri termenung mengingat-ingat dan mencoba menebak-nebak apa gerangan makna dari mimpinya tersebut.

Seiring dengan berjalannya waktu, Sang Putri mulai melupakan mimpinya. Ia kembali lagi menjalankan kegemarannya bermain-main di taman istana. Hingga suatu ketika ia merasa pusing dan muntah-muntah hebat lantas jatuh pingsan.

Pengawal dan Abdi Istana membawa Sang Putri ke istana. Sang Raja bergegas dengan cemas memanggil Tabib Istana. Tabibpun datang dan mulai memeriksa kondisi Sang Putri dengan hati-hati. Setelah beberapa saat memeriksa kondisi Sang Putri, dengan perasaan antara gembira dan takut, Sang Tabib setengah berbisik memberitahukan kepada Sang Raja bahwa Sang Putri sekarang sedang berbadan dua. Sang Tabib gembira karena Raja akan memiliki cucu, namun juga merasa takut karena dengan hamilnya Sang Putri yang tanpa suami, pastilah akan mencoreng nama baik Sang Raja.

Raja menjadi murka dan hampir saja menampar Sang Tabib jika saja Sang Raja tidak ingat bahwa Sang Tabib adalah abdi setianya yang secara turun temurun telah menunjukkan jasa-jasanya kepada anggota kerajaan termasuk kepada Raja terdahulu. Tapi Raja masih tidak percaya karena ia yakin, Sang Putri tidak pernah kemana-mana termasuk juga bertemu dengan seorang pria. Meskipun demikian, ia juga ragu dan sangat terganggu dengan berita dari Sang Tabib. Ia harus mendapatkan bukti yang jelas bahwa Sang Putri benar-benar berbada dua.

Beberapa hari kemudian Bendoro Gung telah pulih dari sakitnya. Seperti biasa ia melakukan kegiatan rutinnya di istana. Tapi kali ini, Bendoro Gung berada dalam pengamatan Sang Raja. Setiap waktu, Raja mengamati tindak tanduk Sang Putri, berusaha memastikan keraguanya akan kebenaran berita dari Tabib istana. Semakin lama diamati, Sang Raja semakin yakin bahwa Putri sedang berbadan dua. Semakin hari, tubuh Sang Putri semakin berisi, dan perutnya semakin membesar, hingga sampailah kabar kepadanya bahwa para pembesarnya kerajaan yang lain telah mulai curiga akan perubahan fisik dari Sang Putri. Sebelum berita kurang sedap berhembus di kalangan istana, Sang Raja segera memerintahkan pengawal untuk membawa Bendoro Gung menghadap padanya.

Dengan penuh murka, Sang Raja menanyakan kepada Sang Putri tentang kebenaran berita dari tabib bahwa Sang Putri sedang berbadan dua serta menanyakan siapakah laki-laki yang berani lancang mengganggunya. Dengan terkejut karena tidak menyangka ditanya seperti itu, Putri membantah tuduhan Sang Raja karena ia merasa masih suci dan belum pernah disentuh laki-laki manapun apalagi melakukan hal-hal yang melanggar norma. Ia pun merasa tidak hamil dan andaikata ia hamil, ia bersikukuh bahwa ia tidak bersalah karena kehamilan itu adalah bukan atas kehendaknya. Ia juga menceritakan bahwa perubahan yang ada padanya terjadi sejak ia mengalami mimpi aneh. Sang Raja tidak percaya. Sang Putri dianggap dusta dan mengada-ada.

Sang Raja masih kurang berkenan dengan jawaban Sang Putri. Sebagai bentuk kemurkaannya, Sang Raja memilih untuk tidak berbicara dengan Sang Putri untuk beberapa saat lamanya. Beberapa waktu kemudian, semakin terlihatlah perut Sang Putri yang makin membesar. Membesarnya perut Sang Putri semakin mengukuhkan dugaan Sang Raja bahwa Putri telah hamil di luar nikah.

Dengan kemurkaannya, Sang Raja memanggil Patih kepercayaannya yaitu Patih Pranggulang untuk membawa Sang Putri ke tengah hutan dan menghilangkan nyawa Sang Putri sesampainya mereka di hutan. Tindakan ini diambil Sang Raja sebagai hukuman atas perbuatan Sang Putri yang dianggap telah mencoreng nama baik Sang Raja beserta kerajaan.

Dengan masygul, Patih Pranggulang melaksanakan perintah Sang Raja. Ia ditemani beberapa Prajurit Istana menghadap Sang Putri untuk kemudian membawanya ke tengah hutan. Sesampainya di tengah hutan, Patih Pranggulang menceritakan perintah Sang Raja. Sang Putri hanya bisa pasrah, karena andaikata melawanpun tidak akan ada gunanya. Ia lantas bersimpuh untuk menerima nasib buruknya yang akan mati sebentar lagi. Sebelum Patih melakukan tugasnya, Putri berpesan bahwa jika pedang sang Patih sanggup melukainya, maka dapat dipastikan Sang Putri bersalah. Namun jika pedang sang Patih tidak mampu menyentuhnya, itu berarti Sang Putri tidak bersalah dan masih suci. 

Mendengar ucapan Sang Putri, bibir Patih Pranggulang bergetar dan air mata matanya berlinang. Sayangnya, ia tak bisa berbuat apa-apa karena titah Raja adalah di atas segala-galanya. Ia pun menghunus pedang dan menebaskan pedas tersebut ke leher Sang Putri. Terjadilah keajaiban. Tiga kali pedang itu ditebaskan ke leher Sang Putri yang pasrah, tetapi tiga kali itu pula pedang tersebut terpental ke tanah.

Menghadapi kejadian aneh tersebut Patih Pranggulang termenung. Dia mengambil kesimpulan bahwa hamilnya Sang Putri memang bukan kesalahanya melainkan karena ada hal-hal yang luar biasa. Saat termenung itulah, Patih Pranggulang tiba-tiba mendengar suara bayi secara gaib dari rahim Sang Putri. Bayi itu meminta Patih Pranggulang untuk tidak usah lagi mengulangi perbuatannya. Sang Bayi mengatakan bahwa Sang Patih telah melaksanakan titah Rajanya dengan baik. Tetapi Tuhan belum mengizinkan Sang Bayi dan Sang Putri untuk mati sekarang. Di akhir ucapannya, Sang Bayi itu meminta tolong kepada Patih Pranggulang untuk dibuatkan rakit.

Mendengar pinta dari suara ajaib itu, Patih Pranggulang bersama pengawalnya lantas menebang pohon di hutan dan membuat rakit. Setelah rakit siap, mereka membawa rakit itu ke tepi laut bersiap untuk berlayar. Sebelum berlayar, Patih Pranggulang berpesan, jika kelak, ketika berlayar atau setelahnya Sang Putri menjumpai masalah yang memaksanya terpisah jauh dari Pranggulang dan Putri butuh pertolongan, Sang Putri cukup  menjejakkan kakinya ke tanah tiga kali, seketika itu Pranggulang akan segera datang.

Selanjutnya, Patih Pranggulang mengganti pakaian kebesaranya sebagai Patih dengan pakaian Poleng (kain tenun kasar). Ini dilakukan Pranggulang, karena ia sadar ia tak mungkin kembali menghadap Raja. Sejak saat itu, Patih Pranggulang mengubah namanya menjadi Ki Poleng dan melakukan pengembaraan mengawal Sang Putri bersama beberapa prajurit yang menemaninya.

Setelah persiapan dan bekal seperlunya dianggap cukup, Sang Putri bersama Ki Poleng dan beberapa prajurit pengiring naik ke atas rakit. Sesaat kemudian Ki Poleng menendang rakit itu agar bergerak di air.  Rakit tersebut berlayar menuju utara. Setelah sekian lama di ombang-ambingkan ombak, Sang Putri beserta rombongan terdampar di sebuah daratan kecil yang tersembul di permukaan laut tepat di bawah pohon “Ploso” (semacam pohon jati). Daratan kecil inilah sekarang dikenal sebagai Gunung Geger terletak sekitar 40 km arah timur laut kota Madura Barat.

Ketika Sang Putri mendarat di daratan tersebut, ia menjumpai bahwa daratan ini begitu unik. Jika air laut pasang, maka  daratan ini menjadi sempit sekali, akan tetapi jika air laut surut, maka area daratan akan bertambah luas. Itulah sebabnya daratan itu diberi nama “Lemah Doro” (tanah yang tak sesungguhnya) karena sering berubah luasnya. Konon, kata Lemah Doro ini oleh beberapa orang diangggap sebagai cikal bakal nama pulau Madura.

Di pulau yang tidak berpenghuni itu, Sang Putri merasa kelaparan. Ki Poleng dan para prajurit tidak ada bersamanya karena mereka sedang melakukan pengamatan wilayah sekitar. Akibat rasa lapar yang melanda, Sang Putri berjalan berkeliling untuk mencari makanan yang bisa mengenyangkan perutnya. Pulau itu begitu kering tetapi juga lembab dan tumbuhan yang berbuah jarang dijumpai. Sang Putri berjalan dengan penuh harap hingga ia menjumpai sebuah tanah lapang yang di tengah tanah tersebut terdapat sebuah pohon randu yang di beberapa rantingnya terdapat sarang madu. Adanya pohon di tanah lapang yang dihuni lebah madu konon juga dianggap menjadi  cikal bakal dari kata Madura yang berasal dari kata Madu ning Oro-oro (madu di tanah lapang). Dengan kerja keras, Sang Putri akhirnya mendapatkan madu tersebut yang menyebabkan lapar serta dahaganya menjadi hilang.

Beberapa bulan setelah Sang Putri yang hamil itu terdampar di Gunung Geger, telah tiba baginya saat untuk melahirkan. Saat itu, Ki Poleng beserta prajurit yang lain sedang meramu untuk mencari makan. Putri Bendoro merasa mulas dan merasa akan melahirkan. Sang Putri berkeliling mencari Ki Poleng tetapi yang dicari tidak ditemukan hingga pencariannya mengantarnya pada pinggir pantai. Rasa sakit tidak tertahankan, dan ia merasa detik-detik melahirkan akan segera tiba. Ia merasa sendirian dan butuh bantuan. Di saat-saat yang genting tersebut, ia pun teringat pesan Ki Poleng untuk menjejakkan kakinya tiga kali ke tanah. Di jejekkannya kakinya tiga kali ke tanah, dan Ki Polengpun muncul secara gaib di hadapan Sang Putri.

Atas bantuan Ki Poleng, Sang Putri melahirkan seorang bayi laki-laki yang rupawan. Karena kelahiranya tepat di tepi pantai, Oleh Ki Poleng bayi lelaki itu diberi nama Raden Segoro yang bermakna Pangeran Laut.

Sejak kelahiran Raden Segoro, di sekitar Gunung Geger selalu ada cahaya semacam rembulan memancar ke angkasa. Cahaya ini, seringkali dilihat oleh pelaut yang berlayar di sekitar perairan Gunung Geger. Tertarik akan cahaya ini, akhirnya banyak pelaut yang singgah ke Gunung Geger dan kemudian menghambakan diri pada Bendoro Gung. Bendoro Gung, Raden Segoro, Ki Poleng, para Prajurit Pengawal, beserta para pelaut yang datang akhirnya dianggap sebagai penduduk pertama di Madura.

Sejak kecil Raden Segoro diberi keistimewaan oleh Sang Maha Kuasa. Belum genap usia setahun, Raden Segoro sudah pandai berlari-lari dan bermain-main layaknya orang dewasa. Selain itu tubuh Raden Segoro demikian kuat dan tidak pernah sakit. Inilah yang menyebabkan ki Poleng merasa lega bahwa pengorbanannya tidak sia-sia menentang seorang Raja untuk seorang anak yang luar biasa berharga.

Saat berumur 2 tahun, Raden Segoro sering bermain di tepi pantai dekat kediaman keduanya. Pada suatu hari, muncullah dua ekor naga yang amat besar dari arah lautan. Naga-naga itu mendekat ke arah Raden Segoro. Demi melihat makhluk tersebut, Segoro kecil berlari ketakutan sambil menangis kepada ibunya. Iapun lalu menceritakan pertemuan dengan dua naga tersebut pada ibunya.

Khawatir akan keselamatan anaknya, Bendoro Gung memanggil Kiai Poleng. Setelah Kiai Poleng datang, Bendoro Gung menceritakan kejadian yang baru saja dialami puteranya. Kiai Poleng lantas mengajak Raden Segoro ke pantai tempat untuk bertemu kembali dengan dua naga tersebut. Di tempat yang sama, kedua ekor naga tersebut muncul.

Kiai Poleng melihat bahwa kedua naga itu tidak memiliki niatan untuk mengganggu Raden Segoro. Mereka bahkan terkesan sedang menunggu Segoro untuk memiliki mereka berdua. Atas dasar tanda-tanda gaib inilah, Ki Poleng lantas menyuruh Raden Segoro memegang ekor naga tersebut dan membantingnya ke tanah. Raden Segoro menuruti perintah Kiai Poleng dan setelah dibanting, dua ekor naga itu menjelma menjadi dua buah tombak. Kedua tombak tersebut diberikan kepada Bendoro Gung. Tombak pertama diberi nama Kiai Nenggolo sedangkan tombak kedua diberi nama Kiai Aluquro. Kiai Poleng memberi tahu kegunaan dua tombak tadi, bahwa  Kiai Aluquro untuk di simpan di dalam rumah sebagai penjagaan dari dalam, dan Kiai Nenggolo untuk dibawa ketika berperang.

Raden Segoro menganggap Ki Poleng sebagai paman sekaligus orang tua sendiri. Dengan segenap kesungguhan, Raden Segoro mempelajari ilmu kanuragan, pengetahuan tentang kehidupan, serta meditasi dari Ki Poleng. Raden Segoro juga belajar teknik pengobatan dari pamannya tersebut dan beberapa kali berhasil menyelamatkan masyarakat yang ada di sekitarnya. Akibat kemampuan pengobatannya yang mumpuni, nama Raden Segoro menjadi terkenal, tidak hanya di Madura, tetapi juga diantara para pelaut yang berasal dari luar pulau Madura yang sedang singgah di Madura.

Suatu ketika, Kerajaan Medang Kamulan mendapat cobaan yang besar. Segelombang besar tentara bangsa Cina datang untuk menyerang kerajaan. Prabu Giling Wesi yang tidak gentar menghadapi niat invasi tersebut, memilih mengangkat senjata melawannya. Akhirnya pertempuran besarpun tidak terelakkkan. Dua pasukan sama-sama kuat dan pertempuran berakhir imbang.

Mengetahui bahwa tidak mudah untuk menaklukkan tentara Medang Kamulan, jenderal dari bangsa Cina memutuskan untuk menggunakan tipu daya muslihat. Tentara Medang Kamulan tidak diserang dengan tentara, namun diserang dengan penyakit menular yang berupa cacar. Waktu itu penyakit cacar adalah penyakit baru dan belum dikenali keberadaannya di kerajaan Medang Kamulan. Akibat serangan penyakit ini, sebagian besar tentara Medang Kamulan tidak dapat berperang dengan baik. Tidak hanya tentaranya, rakyat bahkan para bangsawanpun terkena wabah penyakit ini.

Prabu Giling Wesi gelisah mengetahui masalah ini. Akibat wabah yang menyebar, kemampuan tentaranya untuk berperang semakin menurun. Selain itu, banyak rakyatnya yang sakit parah atau terlambat mendapatkan pertolongan harus menyerahkan diri pada takdir, mati akibat penyakit yang aneh ini. Berbagai upaya dilakukan oleh tabib-tabib istana untuk mengusir penyakit ini, namun penyakit ini tidak kunjung hilang.

Suatu ketika, prabu Giling Wesi mendapat kunjungan dari rakyatnya yang bekerja sebagai nelayan. Mereka menceritakan keberadaan seorang pemuda sakti ahli mengobati yang berasal dari sebuah pulau di ujung utara yang bernama Segoro. Tertarik dengan cerita nelayan tersebut, prabu Giling Wesi memerintahkan Patihnya dengan ditemani para nelayan berkunjung ke pemuda yang dianggap sakti tersebut. Patih yang diperintahkan adalah Patih Muda yang belum banyak pengalaman namun pemberani. Raja bertitah kepada Patih agar membawa pemuda tersebut untuk mengusir penyakit yang melanda kerajaan. Jika berhasil, prabu menjanjikan sebuah hadiah yang sangat besar bagi pemuda tersebut.

Sang Patih dengan penuh hormat menjalankan perintah dari Raja. Berangkatlah ia bersama para nelayan ditemani beberapa prajurit pilihan ke pulau yang dimaksud. Sesampainya di pulau yang dimaksud, ia segera mencari tempat kediaman Raden Segoro. Raden Segoro pada waktu itu sedang berlatih kanuragan dengan pamannya Ki Poleng. Sang Patih hanya bertemu dengan Bendoro Gung.

Di depan Bendoro Gung, Sang Patih menyampaikan maksud kedatangannya sebagai utusan dari Medang Kamulan yang membutuhkan pertolongan Raden Segoro. Patih Muda ini sepertinya tidak mengenali Bendoro Gung. Di hadapan para utusan, Bendero Gung tidak menerima maupun tidak menolak, melainkan berkata akan memusyawarahkan hal tersebut dengan anaknya dan paman dari anaknya yaitu Ki Poleng. Setelah Ki Poleng dan Raden Segara datang, mereka bermusyawarah dan sepakat menerima permintaan dari Raja Giling Wesi. Selain karena faktor kemanusiaan dan Medang Kamulan adalah kerajaan asal usul dari Bendoro Gung dan Ki Poleng, memberangkatkan Raden Segoro ke Medang Kamulan dapat digunakan sebagai sarana mengenalkan dunia luar.

  Bendoro Gung mengijinkan putranya pergi. Namun sebelum Raden Segoro berangkat, Bendoro Gung membekali putranya dengan tombak Kiai Nenggolo dan meminta Ki Poleng untuk mendampingi Raden Segoro dengan cara Malih Rupa menjadi wujud yang tidak terlihat. Dengan wujud itu, hanya Raden Segoro sajalah selama perjalanan yang bisa melihat Ki Poleng.

Sesampainya di Medang Kamulan, Raden Segoro langsung beraksi. Yang pertama kali dilakukan adalah menyembuhkan orang-orang yang terkena wabah penyakit. Dengan ramuan yang ia racik sendiri dari tumbuhan yang ada di pulau Madura, ditambah dengan kesaktiannya, ia obati orang-orang yang sakit tersebut hingga mereka sembuh seperti sedia kala. Prajurit-prajurit yang semula sudah tidak mampu lagi mengangkat senjata, kini sudah kembali segar dan siap membela Medang Kamulan dari serangan tentara Cina. Obat-obatan mujarab yang dibawa Raden Segoro inilah yang menjadi cikal bakal kelak akan mashurnya ramuan dari pulau Madura.

Raden Segoro tidak berhenti hanya mengobati rakyat dan prajurit Medang Kamulan yang sakit saja. Dengan kesaktiannya, wabah penyakit yang ada di kerajaan tersebut ia balikkan juga ke tentara Kerajaan Cina sehingga mereka bernasib sama seperti kondisi rakyat Medang Kamulan. Dengan adanya wabah ini di dalam tentara kerajaan Cina, dan bugarnya tentara Medang Kamulan, kondisi peperangan mulai berbalik. Kondisi tentara Medang Kamulan lebih kuat, sedang kondisi tentara Cina menjadi menurun.

Di saat kondisi tentara Cina sudah kacau, Raden Segara tambil menjadi salah satu panglima kerajaan Medang Kamulan untuk menyerang tentara kerajaan Cina. Di medan perang, Pangeran Segara tampil trengginas dan gagah perkasa. Tombak Kiai Nenggolo berkelebat kesana dan kemari merusak formasi peperangan tentara Cina. Ki Poleng yang wujudnya tidak kelihatan juga membantu Raden Segoro. Sekali Ki Poleng bergerak, puluhan prajurit berjatuhan. Ada yang mati ada yang pingsan, sehingga gegerlah pasukan Cina melihat keanehan ini. Karena semakin banyak tentara Cina yang mati secara ajaib, maka pasukan musuh yang tersisa segera melarikan diri dari medan pertempuran.

Raja merayakan kemenangan itu dan memberi gelar Tumenggung Gemet kepada Raden Segoro. Selain itu Raja berkeinginan untuk menikahkan Raden Segoro dengan salah seorang putrinya yang tak lain adalah adik dari Bendoro Gung. Raden Segoro merasa senang akan hal ini, tapi Ki Poleng membisikinya untuk tidak bertindak gegabah serta memikirkan hal tersebut dengan matang. Iapun meminta Raden Segoro berkonsultasi dulu pada ibunya di Madura.

Saran ini diikuti Raden Segoro. Dengan bahasa yang halus, Raden Segoro meminta maaf untuk sementara waktu masih belum bisa memutuskan hal tersebut. Ia mengatakan bahwa sebagai anak yang baik, ia tidak akan memutuskan sesuatu tanpa berkonsultasi dahulu dengan ibundanya, orang tua kandung satu-satunya yang ada di Madura. Raja paham akan hal ini dan karenanya Raja menyuruh Raden Segoro menemui ibunya untuk menyampaikan maksud tersebut. Dengan dikawal oleh tentara kehormatan, Raden Segoro pulang dan menyampaikan maksud Raja.

Sesampainya di Madura, Raden Segoro menceritakan apa yang sudah dialaminya. Ki Poleng juga membenarkan cerita Raden Segoro. Demi mendengar permintaan tersebut, menangislah Bendoro Gung. Ia dengan tegas menolak permintaan Sang Raja. Pada awalnya, Raden Segoro merasa aneh serta sedikit kecewa akan keputusan ibunya. Untuk menghilangkan kekecewaan anaknya, maka Bendoro Gung lantas mengungkapkan semua cerita seputar dirinya, bahwa ia dan Ki Poleng berasal dari Medang Kamulan, bahwa dirinya adalah putri dari Sang Raja, bahwa Raden Segoro tak lain adalah cucu dari Sang Hyang Tunggal yang baru saja ditolongnya dan calon istrinya tak lain adalah bibinya sendiri. Mendengar cerita ini, Raden Segoro menjadi terharu dan mereka berpelukan sambil menangis.

Keputusan sudah dibuat. Raden Segoro mendukung apa yang dikatakan ibunya. Dengan langkah mantap, ia menemui komandan pasukan pengawal kerajaan dan menyampaikan keputusan tersebut. Ia menitipkan salam dan permohonan maafnya karena lancang menolak anugerah yang besar dari Sang Raja. Mendengar hal ini, komandan pasukan beserta anak buahnya segera undur  diri. Dengan tergesa-gesa, mereka menyampaikan berita tersebut pada Sang Raja.

Rajapun murka. Ia merasa kehormatannya terusik karena Raden Segoro berani menolak pemberiannya. Ia merasa, tidak layak seorang rakyat biasa menolak titah Sang Raja apalagi menolak pemberiannya yang berupa Putrinya sendiri yang cantik. Ia merasa bahwa di mata Raden Segoro dan ibunya, putrinya tidak berharga apa-apa dan karenanya mereka menolak. Penolakan inilah yang dianggap Raja sebagai penghinaan. Di dalam kemarahannya, Raja memerintahkan salah seorang panglimanya untuk menyiapkan tentara perang. Tentara ini ditugaskan untuk membawa pulang hidup-hidup Raden Segoro ke Medang Kamulan untuk diberi hukuman.

Berita tentang persiapan penyerangan terdengar luas di kerajaan. Mendengar hal ini, beberapa rakyat yang merasa berhutang budi pada Raden Segoro berangkat ke Madura mendahului pasukan Sang Raja. Mereka bermaksud menyampaikan rencana Sang Raja dan meminta Raden Segoro untuk bersiap atau pindah ke tempat lain mencari selamat.

Raden Segoro mendengar kabar ini tidak merasa gentar. Ia merasa, berapapun tentara yang dikirim, ia pasti bisa mengatasinya. Apalagi ada Ki Poleng dan beberapa bekas tentara Ki Poleng di sekitarnya. Ia siap perang dan mempersiapkan segala sesuatunya.

Berita penyerangan Raja, dan persiapan Pangeran Segoro juga didengar Bendoro Gung yang pada waktu itu sedang melakukan pertapaan di Gunung Geger. Ia mendengarnya melalui suara-suara gaib dari angin yang mendesir di sekitar pertapaannya. Dengan tergesa-gesa ia turun gunung dan melarang putranya berperang. Ia merasa takut, bukan karena Raden Segoro akan gugur, tetapi ia takut kesaktian Raden Segoro akan menghancurkan Sang Raja. Dengan lembut, ia menenangkan anaknya yang gagah dan memberikan pengertian. Ki Polengpun juga memberikan pertimbangan yang sama bahwa tidak etis memang berperang melawan ayahnya sendiri. Untuk menghindari konflik, merekapun berjalan ke utara menjauh dari tempat tinggal mereka agar tidak ditemukan oleh tentara kerajaan Medang Kamulan.

Rombongan Raden Segoro berjalan ke utara melewati bukit dan pepohonan. Di sebuah hutan lebat, yang ditengahnya di belah oleh sungai yang banyak ditumbuhi pohon Nipah, atau tempat yang sekarang kita kenal sebagai Hutan Nepa, Raden Segoro dan rombongan berhenti. Raden Segoro dan Bendoro Gung merasa tempat itu cukup aman dari kejaran pasukan kerajaan Medang Kamulan. Di tempat tersebut mereka lalu membangun pemukiman.

Pemukimanpun telah dibangun. Tetapi hati Bendoro Gung masih belum tenang. Untuk menenangkan dirinya, ia mulai melanjutkan pertapaannya yang sempat terhenti di Gunung Geger. Ki Poleng dan Raden Segoropun mengikuti apa yang dilakukan Bendoro Gung. Atas kuatnya keinginan mereka bertiga untuk dapat menghindar dari kejaran pasukan Raja Medang Kamulan, Sang Maha Kuasa akhirnya mengabulkan doa mereka bertiga. Beberapa saat setelah mereka bertapa, secara ajaib mereka bertiga menghilang dan prajurit yang mengiringi Raden Segoro dari Medang Kamulan berubah jadi kera. Konon itulah asal muasal kera-kera yang banyak berada di desa Nepa sekarang ini.

Menurut cerita rakyat setempat, orang-orang tertentu yang memiliki tingkat spiritual yang tinggi, bisa melihat sosok Raden Segoro yang gagah disertai pakaian perang yang dilapisi kilauan emas. Konon pula mereka dapat melihat bahwa Hutan Nepa sebenarnya bukanlah hutan tetapi kerajaan yang ramai dengan bangunan tradisional yang megah dan rakyat yang jumlahnya sangat banyak.

Adapun tombak Kiai Nenggolo dan Kiai Aluquro, dua tombak ini ikut pula menghilang namun pada suatu ketika, muncul dan diwariskan Raden Segoro kepada Pangeran Demong Plakaran, Bupati Arosbaya. Pangeran Demong dianggap cakap memimpin serta memiliki kesaktuan yang cukup untuk menggunakan dua senjata pusaka ini. Sampai saat ini, tombak Kiai Nenggolo dan Kiai Aluquro masih tetap ada dan menjadi senjata pusaka Kabupaten Madura Barat (Yang kini bernama Bangkalan).

DAFTAR ISI BUKU
Mozaik Caréta Dâri Madhurâ: Antologi Cerita Rakyat Para Penghuni Pulau Madura

KATA PENGANTAR DARI PENULIS iii
DAFTAR ISI vi

LEGENDA MASYHUR MADURA
Asal Muasal Kata Madura 1
Jokotole, Legenda dari Madura 14
Ké Lésap dan Asal Usul Bangkalan 55
Legenda Panji Laras 69
Asal Usul Desa Pulau Mandangin dan Tragedi Bangsacara-Ragapadmi 78
Asal Usul Mengapa Orang Madura Menjadikan Jagung Sebagai Makanan Pokok 101
Asal Usul Kerapan Sapi dan Desa Parsanga 109
Asal Muasal Desa Pebabaran dan Kisah Tentang Keberanian Pangeran Trunojoyo Dalam Membela Rakyat Madura 114
Asal Muasal Munculnya Fenomena Carok dan Digunakannya Clurit Sebagai Senjata Tradisional Orang Madura 123

SUMENEP
Legenda Banyak Wide dan Asal Usul Sumenep 131
Asal Usul Kampung Mambang dan Desa Banasare 141
Asal Usul Desa di Pulau Gili Raja 145
Asal Usul Desa Aeng Panas 153
Asal Usul Batu Cenning Di Pandabah dan Jaddih Bangkalan, dan Dusun Ghunong Pekol Sumenep 156
Asal Usul Desa Gersik Putih, Kasengan dan Beraji 164
Asal Usul Karang Duak 170
Asal Usul Batu Cenning dan Desa Semma’an 173
Asal Usul Desa Beluk Raja 179
Asal Usul Desa Aeng Baja Rajah 185
Asal Usul Desa Ambunten dan Legenda Karang Menangis 190
Asal Usul Desa Karduluk 195
Asal Usul Desa Lalangon 200
Asal Usul Desa Bakeong 204
Asal Usul Desa Pamoangan 208
Asal Usul Desa Panaongan 212
Asal Usul Sumber Kacceng 216
Bhindhara Saod dan Asal Usul Desa Dungkek 220
Legenda Kera Diajar Ngaji 227

PAMEKASAN
Asal Usul Desa Sotabar Pamekasan 232
Asal Usul Somor Jhejjher dan Somor Ghendhis Desa Plakpak Kecamatan Ghentenan Pamekasan 235
Asal Usul Desa Galis Pamekasan 240
Asal Usul Api Tak Kunjung Padam 243
Asal Usul Sombher Kolla Kaljan Dempo-Timur Pasean Pamekasan 250
Asal Usul Pamekasan dan Kelurahan Kol Pajung 255
Asal Usul Kolam Si Ko’ol 259
Asal Usul Desa Pangbhâtok, Dusun Kosambih dan Kampung Aéng Nyono’ 265
Asal Usul Mengapa Air Laut Itu Asin 274
Asal Usul Kampung Begandan 278
Asal Usul Desa Muangan, Daerah Léngker Paté’, dan Desa Batu Ampar (Timur) 281
Asal Usul Desa Sopa’ah 90
Asal Usul Desa Kaduara Barat (Pamekasan) dan Kaduara Timur (Sumenep) 297

SAMPANG
Legenda Putri Nandi dan Asal Usul Desa Karongan 300
Legenda Sang Penjaga Pantai Taralam 304
Asal Usul Desa Tragih dan Torjunan 310
Asal Usul Desa Napo 314
Asal Usul Desa Banyuates 320
Asal Usul Desa Sokobanah 324
Asal Usul Desa Nagasareh 332
Asal Usul Desa Bapelle 338
Asal Usul Dusun Kajuabuh 342
Asal Usul Desa Kalangan Prao 345
Asal Usul Desa Banyusokah dan Dusun Sadah 349
Asal Usul Desa Tapa’an 355
Asal Usul Dusun Madegan 361
Asal Usul Desa Lepelle 364
Asal Usul Desa Kamoning 368
Asal Usul Desa Polagan 372

BANGKALAN
Asal Usul Blega 376
Asal Usul Pasarean Aeng Mata Ebhu dan Desa Buduran 385
Asal Usul Berkoneng dan Desa Ghili 390
Asal Usul Desa Kampak 396
Asal Usul Mengapa Warga Trogan Tidak Makan Mondung dan Warga Berbelluk Menjadi Pengrajin Lencak 402
Asal Usul Pancoran dari Desa Tambak Agung 408
Asal Usul Desa Paterongan 415
Asal Usul Kampung Kramiyan 421
Asal Usul Arosbaya 426
Legenda Masjid Arosbaya 430
Asal Usul Desa Pocong dan Desa Tragah 441
Asal Usul Desa Lembung Gunung 450
Asal Usul Kampung Kramat Tikus 455
Asal Usul Dusun Mancingan 460
Asal Usul Dusun Banyuajuh dan Kampung Beruk 467
Asal Usul Desa Kramat 477
Legenda Si Cantik dari Pedeng 481
Asal Usul Desa Klampés 485

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: